
Sabtu, 21 Juni 2025, Kabupaten Malang, mahasiswa KKN-T kelompok 12, Universitas Al-Qolam Malang, sukses menggelar kegiatan seminar pelatihan sampah yang berlangsung pada Sabtu, 21 Juni 2025 di Warunk Ratu Rawit, Jalan Hayam Wuruk Nomor 1, Krajan, Gondanglegi Wetan, Kecamatan Gondanglegi, Kabupaten Malang. Kegiatan ini dimulai pukul 08.00 sampai selesai pada 14.30 WIB.
Kegiatan seminar pelatihan sampah diikuti oleh 38 peserta, termasuk tamu undangan, beserta delegasi dari berbagai ranting NU Gondanglegi Wetan. Tujuan kegiatan ini adalah sebagai salah satu bentuk upaya dari para mahasiswa KKN kelompok 12 dalam mewujudkan program utama mereka. Hal ini tentunya tidak lepas dari dedikasi, kontribusi serta bantuan dari berbagai sumber yang turut andil dalam mensukseskan acara tersebut.
Upaya ini merupakan inisiatif dan langkah kongkret ketua KKN kelompok 12, Eril Fajar Rosando, yang mengatakan bahwa seminar pelatihan ini adalah cabang atau turunan dari proker utama, yakni ‘mewujudkan kampung cerdas sampah.’ “Seminar pelatihan ini merupakan cabang atau turunan dari proker utama, yakni ‘mewujudkan kampung cerdas sampah,’” tuturnya saat sambutan.
Kemudian ia menambahkan, “salah satu strategi agar dapat melaksanakan proker-proker kita, salah satunya adalah mengadakan kegiatan ini dengan mengundang beberapa petugas/pelaku pengelola sampah nantinya,” imbuhnya. “Tujuan dari mengundang beberapa petugas yang nantinya akan menjadi tim, paling tidak minimal kami dapat membantu panjenengan semua dalam bentuk sedikit bekal sebalum aksi dan terjun di lapangan bersama nantinya,” tutupnya.
Acara seminar pelatihan sampah ini terbagi ke dalam tiga sesi. Sesi pertama diisi oleh dua pemateri dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) kabupaten Malang, ibu Sa’diyyatul Azizah, dan bapak Dhio yudhistira mahesa putra. Pemateri pertama, ibu Sa’diyyatul Azizah, menyampaikan dalam penjelasannya bahwa, “sampah di kabupaten Malang ini bisa menghasilkan 1225 ton/hari dari 2.663.862 jiwa.

Dari Jumlah inilah sampah-sampah dapat kita lihat betapa banyaknya sampah yang sudah kita hasilkan, berapa banyak sampah yang sudah kita buang, belum lagi sampah-sampah yang tersebar di tempat-tempah sembarangan, alias dibuang ke tempat yang tidak semestinya. Inilah PR kita bersama selaku warga negara Indonesia, masyarakat kabupaten Malang,” ujarnya saat penyampaian materi.
Kemudian, Azizah juga menyampaikan bahwa sampah yang tidak terkelola dapat menyebabkan kerusakan dan mengganggu lingkungan sekitarnya. “Kabupaten Malang memiliki banyak Daerah Aliran Sungai (DAS). Sampah yang tidak terkelola akan terbawa aliran air sungai. Sungai yang tercemar sampah akan menimbulkan permasalahan estetika, sanitasi, berkurangnya pasokan air bersih hingga bencana alam. Hal ini tidak hanya akan terjadi di Kabupaten Malang, namun di Kabupaten/Kota sekitarnya (Lumajang, Blitar, Pasuruan, Kediri, Mojokerto, Gresik, Jombang, dan Surabaya),” Imbuhnya.
Masih bersama DLH, materi berikutnya disampaikan oleh bapak Dhio yudhistira mahesa putra, atau akrab disapa mas Dhio. Ia menjelaskan materi lanjutan dari materi sebelumnya yang masih satu bidang. Dalam penyampaiannya yang sedikit interkatif dengan audiens, ia menjelaskan, “pengelolaan sampah menurut peraturan perundang-undangan, bahwa setiap penghasil sampah wajib menyelesaikan permasalahan sampahnya sendiri,” tegasnya. Dhio juga menjelaskan terkait dengan jenis-jenis sampah yang perlu diketahui oleh masyarakat secara umum, dan para petugas pengelola sampah khususnya. Ia mengafirmasi kembali terkait dengan jumlah sampah yang dihasilkan oleh masing-masing masyarakat per harinya.
“Setiap orang menghasilkan 4 kg sampah per hari, atau sama dengan 2,09 liter/hari,” ungkap Dhio. “Dikalikan dengan jumlah penduduk sebanyak 2,7 juta jiwa, didapatkan bahwa timbulan sampah di kabupaten Malang adalah 1.100 tpd,” imbuhnya. “Ini merupakan PR kita bersama yang telah menghasilkan sampah sebanyak itu. Mari kita kelola, mari peduli terhadap lingkungan kita sendiri. Kita yang pakai, kita yang mengonsumsi, maka tugas kita juga yang bertanggung jawab atas kebersihan itu sendiri,” pungkasnya.
Paska materi DLH selesai, para peserta diberi hak untuk bertanya langsung kepada pemateri. Setelah sesi tanya jawab selesai, para peserta kembali mendapatkan bekal materi dari pemateri ke-2 yang disampaikan oleh ‘ibu Aing ibu Nurhayati’ selaku pemateri yang mengisi pada sesi kedua. Di samping sebagai pemateri, ia cukup akrab dengan para peserta, pasalnya ia adalah pemateri sekaligus Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) dari mahasiswa KKN-T kelompok 12 yang sudah pernah bertemu dengan sebagian peserta sebelumnya.
Dengan gaya penyampaiannya yang sudah akrab, ia lebih mengutamakan psikolog dari para peserta dengan menyapa mereka terlebih dahulu. Metode tersebut cukup efektif sehingga membuat suasana yang awalnya beku menjadi cair, dan kembali menggugah semangat baru dari para peserta. Dalam sesi ke-2 itu, ia menjelaskan materi yang sebelumnya sudah disinggung oleh pemateri dari DLH. Sedikit menguatkan dan menghubungkannya dengan kondisi Gondanglegi Wetan yang sudah pernah disurvei oleh mahasiswa KKN setengah-satu bulan yang lalu.
Dalam penjelasannya, ia memutar sebuah video fakta tentang kondisi TPS 3R, di daerah Pancir, Gondanglegi Kulon, yang dikelola oleh bapak Peni. Setelah materi ke-2 selesai disampaikan, ketua pelaksana, Fahmi Ulum menyampaikan di akhir sesi, “Alhamdulillah kegiatan berjalan dengan lancar mulai dari sesi pertama hingga kedua. Semoga apa yang kita serap dari beberapa pemateri hebat dapat kita ambil manfaatnya sesuai kebutuhan dan kondisi sekitar kita,” tuturnya. “Baik, bapak ibu sekalian, sekarang waktunya istirahat. Istirahat dimulai pukul 11.30-12.30. Kita water break (istirahat) sebentar, kemudian dilanjutkan kembali pukul 12.30 sampai dengan selesai. InsyaAllah materi terakhir nanti, terkait dengan pengelolaan sampah organik yang akan disampaikan oleh bapak Abdul Aziz Adam Maulida, dari Rumah Jaya Alam (RAJ), atau dikenal juga sebagai CV. RAJ Organik, Sukun, Kec. Sukun, Kota Malang,” tutupnya.
Materi sesi terakhir terkait dengan pengelolaan sampah organik yang disampaikan oleh bapak Adam. Sesi ini ditemani oleh mas Eril selaku moderator pada sesi akhir ini. Dalam kegiatan terkahir ini, Eril memperkenalkan pemateri sesri ke-3 terhadap para peserta. Ia mengatakan, “bapak Adam ini adalah orang hebat yang jam terbangnya sudah jauh. Beliau adalah owner dari perusahaan yang bergerak di bidang agrobisnis berbasis budidaya cacing.
Kami baru kenal kemarin saat kami mengunjugi RAJ di Sukun, dengan tujuan untuk belajar, berkoordinasi, serta mengundangnya agar dapat hadir untuk mengisi pada kegiatan ini,” ucapnya. “Ini merupakan momen langka yang harus kita manfaatkan sebaik mungkin. Nanti kita akan belajar bersama beliau bapak-ibu, monggo sareng-sareng nderek untuk memperhatikan serta memahami hal-hal yang disampaikan oleh beliau,” tutupnya. Bapak Adam menyampaikan, “kita adalah manusia yang diciptakan oleh yang Maha Kuasa untuk dapat memahami segala sesuatu yang ada di lingkungan sekitar kita,” ujarnya saat awal-awal menyampaikan. Ia juga menambahkan, “semuanya adalah alam. Setiap alam yang kita nikmati harus kita lindungi. Alam yang terlindungi akan jaya,” imbuhnya. “Itulah kenapa kami menamakan tempat kami dengan ‘Rumah Alam Jaya’,” ujarnya.
“Tempat kami, di sana, memang tempat khusus untuk membudidayakan cacing (Lumbricus rubellus) dan memproduksi berbagai produk olahan cacing, termasuk pupuk organik dari kascing (bekas cacing). Jadi semua tanaman, tumbuhan di sana semuanya terkelola dengan baik,” ungkapnya. “jadi, kami terbiasa dengan cacing, bergaul dengan mereka, memisahkan mereka sesuai jenis mereka. Cacing itu memiliki jenis dan sekutunya bapa ibu, yang kecil dengan kecil, begitupun yang besar,” Jelasnya. Limbah-limbah sampah oraganik tidak akan terbuang sia-sia, orang-orang RAJ membiasakan diri mengelola sampah oraganik untuk direproduksi menjadi pangan cacing yang diternak.
Kemudian bapak Adam juga, menegaskan untuk tidak jiji dan gila saat ada keinginan ternak cacing nantinya. Cacing-cacing ini, nantinya jika sudah besar, jika waktunya panen akan sengat membantu terhadap perekonomian para peternak. “Setiap panen, dalam satu bulan satu kali, kami mendapatkan 4 juta rupiah dari cacing tersebut,” jelas Adam.
Para peserta nampak antusias kembali, pasalnya materi terakhir ini cukup menarik perhatian mereka. Para peserta cukup interaktif dengan pemateri ke-3, dengan adanya beberapa pertanyaan terkait. Begitu pun, bapak Adam, ia sangat menghormati sekaligus senang dengan adanya pertayaan-pertanyaan yang diajukan peserta. Di akhir, ia mengimbau agar para peserta tidak berhenti dan stak di sini saja, ia meminta peserta untuk mencoba berkunjung ke tempatnya, supaya tahu secara detail bagaimana proses melakukannya, “silakan main ke tempat kami bapak-ibu, biar tahu kondisinya seperti apa, prosesnya seperti apa, dan bagaimana cara kerjanya, silakan ke sana, kami welcome,” tutupnya.
Penulis: Fauzan Taqiuddin Abdul Fatah, Mahasiswa KKN-T Al-Qolam Kelompok 12