Kesadaran Sejarah

source: Google Image

Oleh: Ahmad Atho’ Lukman Hakim (Ketua LP3M Al-Qolam)

Gondanglegi yang sekarang terkenal sebagai penghasil tebu terbaik ternyata di era tanam paksa (1830-1870) merupakan penghasil kopi, kelapa dan kayu, bukan penghasil gula. Tebu dan pabrik gula di Malang berdiri ketika era liberalisasi tanah pasca tanam paksa.

Wilayah Gondanglegi dulu ternyata luas; ke arah selatan sampai laut selatan; wilayah timur hingga Lumajang (Semeru); wilayah barat sampai Gunung Kawi; dan wilayah utara sampai Kota Malang.

Di wilayah ini kini berdiri Kampus Al-Qolam. Orang sering mengenalnya sebagai daerah santri, kurang lebih 15% jumlah pesantren di Kabupaten Malang ada di sini. Kepeloporan santri di kawasan ini dalam pembangunan dengan melakukan reaktualisasi ajaran pesantren juga diakui.

Mukti Ali, mantan Menteri Agama, merekam inisatif para santri dalam risetnya pada tahun 80-an. Program-program rintisan di bidang jihad sosial tergolong maju di eranya. Jejak-jejaknya pun hingga kini masih bisa kita lihat dan rasakan manfaatnya, termasuk Kampus Al-Qolam.

Begitulah, sejarah bergulir, timbul dan tenggelam. Para pendahulu sudah menorehkan perannya. Kita yang masih tanda tanya. Waba’du, sebagai anak peradaban Al-Qolam hendaknya bisa belajar dari sejarah diri dan para pendahulu, bahkan sejarah masyarakat agar kehadirannya mempunyai relevansi historis yang kuat. Mudah diucapkan tidak sederhana dilakukan.

Tabik