Drakorisasi Pendidikan

Oleh: Ahmad Atho’ Lukman Hakim (Ketua LP3M Al-Qolam)

Sengaja saya memilih judul ini untuk urun rembuk masalah pendidikan yang sedang ramai dibicarakan di jagad media siber. Dengan judul itu saya hendak membawa perbincangan pendidikan ke masalah yang mendasar. Apa hubungannya dengan drakor?

Drakor (drama Korea) adalah fenomena menarik. Drakor pada dasarnya merupakan giat ekonomis pelipatgandaan kapital lewat promosi gaya hidup, homogenisasi, penjualan citra, penciptaan idol, menjual mimpi, serta menjadi ruang untuk sejenak berada di dunia lain saat sumpek menghadapi realitas. Mirip pendidikan!

Pendidikan banyak yang terjebak berangkat dan menuju pelipatgandaan modal. Penyelenggara dan peserta serta lingkungan berada dalam logika pasar ini. Kemudian mempromosikan mitos bahwa sekolah merupakan pembawa kesejahteraan ekonomis, yang pada akhirnya menjadi institusi yang menjajah hati dan menjadi niat semua pegiat pendidikan.

Di era post truth ini ditebarkan wacana sekolah unggul yang kemudian menjadi berhala bagi pemuja dunia. Pendidikan kemudian menjadi gaya hidup serta terjadi homogenisasi paradigma duniawi itu.

Mereka lupa pendidikan yang paling penting adalah mengajar adab dan cinta sebagai prasyarat utama menjadi manusia. Mereka lupa pendidikan mengajarkan cahaya pengetahuan, cahaya etika ketuhanan, dan mengajarkan hakekat di balik semesta.

Semua untuk menjadi manusia yang paripurna, yang bahagia, bermanfaat demi kebaikan jasmani, jiwa dan semesta. Terakhir, pendidikan yang demikian pasti bukan ruang pelarian namun lebih pada sebuah arena yang memberi bekal agar gagah menghadapi kenyataan.

Tabik