NU dan Maslahah; Antara Menjadi Poros Gerakan dan Topeng Hadzun Nafs (?)

Sumber Gambar: Harian Disway

Mafhum, adagium:

Tasarroful imam ‘ala ar-raiyah manuthun bil maslahah

Bahwa kebijakan pemimpin [formal atau non formal] harus sejalan dengan maslahah.

Persoalan tambang, baik saat NU menerima tawaran sebagai pengelola tambang atau saat kadernya menjadi komisaris tambang, kembali perbincangan maslahah ekologis ramai dibicarakan.

Maslahah atau maqashid asy-syariah sebagai basis epistemologi dan aksiologis Islam sama-sama menjadi legitimator baik pendukung dan yang kontra dengan kecanggilan analisa masing-masing.

Spektrum horizon yang dipakai, meski masih sama-sama normatif sudah menunjukkan asumsi dan titik tekan yang berbeda.

Dibalik itu semua kita tidak tahu apakah 2 cara pandang itu lahir dari kejernihan batin yang sama. Kenapa varibel ini penting? Sebab jika tidak berangkat dari kemurnian, maka secanggih apapun analisanya punya potensi untuk talbis.

Talbis itu adalah jubah “kebaikan” yang dipakaikan pada kejahatan agar terlihat molek.

Akhiril kalam, mari kita renungkan al baqorah ayat 11-22: “Jika dikatakan pada mereka, Janganlah membuat kerusakan dibumi, mereka menjawab kami hanya ingin membuat kemaslahatan” [11]

Ingat sesungguhnya mereka hanya membuat ke fasadan tetapi mereka tidak sadar” [12]

Dan ingat kondisi seperti ini adalah istidroj akibat kepintaran yang tidak disertai adab.

Penulis: Ketua LP3M Universitas Al-Qolam Malang