Ideologi

Tulisan ini berangkat dari kegelisahan kenapa sekumpulan orang yang hidup dalam satu komunitas yang mempunyai dan diikat dengan ‘ideologi’ banyak yang tidak bergerak menurut arah ‘ideologi’ itu?

Komunitas ini bisa negara-bangsa, organisasi sosial atau keagamaan bahkan apa saja.

Akibatnya, banyak anggota komunitas itu tidak setia pada ideologinya, warga negara (baca penguasa) bertindak menyimpang dari arah berbangsa dan bernegara, pemimpin ormas berkhianat pada nilai yang diperjuangkannya, sebagai perumpamaannya.

Kalau ditarik di kampus, dosen atau pimpinan bahkan mahasiswa tidak bersikap dan bertindak tidak sesuai dengan visi dan misinya.

Jawaban sementara (hipotesis) saya peroleh ketika membaca sebuah buku yang membicarakan studi awal tentang gerakan sosial. Sebagaimana tersebut di buku tersebut bahwa studi Gerakan sosial pada mulanya diarahkan pada studi mikro yang menaruh perhatian pada individu.

Disebutkan disana bahwa ideologi lembaga hanyalah variabel sekunder untuk memahami perilaku gerakan Masyarakat: Yang menjadi penentu adalah kecenderungan psikologis dan tekanan informal dilingkungan mereka.

Studi ini mengasumsikan bahwa kepribadianlah yang menjadi faktor penentu. Kepribadian adalah hasil akumulasi dari internalisasi dan sosialsasi diri sepanjang perjalanan hidup. Motivasi, predisposisi dan kecenderungan pribadilah yang sebenarnya mempengaruhi mereka dalam berkomunitas atau berorganisasi.


Oleh karena itu jika sebuah lembaga ingin semua bergerak terkonsolidasi sesuai visi dan misi (ideologi) maka harus mentransformasikan kepribadian semua anggotanya agar sesuai dengan ideoginya tersebut. Jika tidak ideologi atau visi hanyalah pengikat palsu yang menjadi atas nama.

Jika transformasi internal diri ini tidak dilakukan, yang terjadi sebenarnya adalah kepentingan pribadi yang masih ditoleransi atas nama ideologi.

Bagaimana dengan kampus kita? Tidak sederhana bukan? []