
Gondanglegi Kulon, Malang – Sekelompok mahasiswa KKN-T Universitas Al-Qolam Malang melaksanakan kerja bakti bersama dengan Dosen Pendamping Lapangan (DPL), Ibu Nur Hayati beserta pengelola, Bapak Feni di TPS 3 R (Reduce, Reuse, Recycle) pada Minggu, 1 Juni 2025 pukul 08.00-11.30 WIB. Kegiatan ini diinisiasi oleh ibu pendamping yang sudah sejak lama direncanakan oleh kelompok 12 dalam beberapa Minggu terakhir ini. Tujuannya adalah supaya para mahasiswa dapat memahami betul kondisi sampah yang sebenarnya di wilayah Gondanglegi.
Kegiatan yang amat langka ini merupakan langkah awal para mahasiswa, khususnya kelompok 12 dalam menjalankan proker mereka ke depannya di wilayah Gondanglegi Wetan. Dalam beberapa Minggu terakhir, jauh sebelum kegiatan ini dilakukan, ketua KKN-T 12, Eril Fajar Rosando telah menjalin komunikasi secara ekslusif dengan pihak pengelola, bapak Feni pada Sabtu, 10 Mei 2025 di kantor secretariat TPS 3R Pancir.
Ia menyampaikan antusiasme mahasiswa kelompok 12 jika di kemudian hari, kami dapat belajar, dan bekerja sama dengan pihak dan petugas di TPS ini, “kedatangan kami di sini, pertama, tentunya ingin belajar, mengetahui dan memahami bagaimana sampah itu dapat dikelola dengan baik dan benar berdasarkan standarnya. Kami ingin tahu kondisi sampah wilayah Gondanglegi, kondisinya seperti apa dan bagaiman tindak lanjutnya?” tanyanya saat wawancara.

Pengelola, dalam hal ini menjawab pertanyaan tersebut berdasarkan realita yang ia temui selama ia bersentuhan langsung dengan sampah. Ia menyampaikan, “Alhamdulillah, sangat senang mendengarnya ketika angka kepedulian bertambah, lebih-lebih kepedulian terhadap kebersihan lingkungan. Saya sebagai pengelola sangat welcome dan mari kita saling belajar dan bekerja sama untuk mengabdi kepada lingkungan dalam masalah sampah,” tuturnya.
“Sebenarnya, pengelolaan sampah yang baik dan benar ini relatif ya. Artinya, tergantung kondisi lingkungan dan masyarakatnya itu sendiri. Kalo standarnya saya yakin semuanya sudah mengetahui ‘Reduce, Reuse, Recycle’. Reduce artinya mengurangi, Reuse menggunakan, dan Recycle mendaur ulang. Ketiga aspek kalo dilakukan dengan optimal maka hasilnya akan baik. Saya yakin lingkungan juga akan terjaga dengan masif dan tidak kumuh. Dan, harus diingat, ini perlu digarisbawahi, bahwa ketiga-tiganya bisa berjalan jika masyarakat, pemerintah, dan pengelola dapat bekerja sama dalam satu mindset yang sama. Satu saja ada pihak yang tidak mendukung maka dapat dipastikan masalah sampah akan terus ada,” tegasnya saat diwawancara.
“Sederhananya begini, masyarakat sudah sepakat, sudah melakukan intruksi dari pengelola, tapi pemerintah kurang sentuhan terhadap masalah ini maka kondisi akan tetap, tidak akan berjalan dengan baik. Sebalikya, alat mendukung, finansial ada, tapi mindset masyarakat sulit dikompromi maka sampah akan tetap menjadi masalah,” imbuhnya. Wawancara ekslusif ini lumayan cukup memakan waktu yang lama, tetapi semuanya berjalan dengan baik lancar. Dalam hal ini, Ketua KKN memungkasi obrolannya dengan meminta izin untuk melakukan kerja bakti sekaligus mempelajari mekanisme pengelolan sampah untuk diterapkan di Lokasi KKN ke depannya.
Kegiatan yang berlangsung pada hari weekend ini cukup berjalan dengan baik dan lancar, hal ini ditunjukkan dengan antusiasnya para mahasiswa yang melakoninya dimulai dari memilah sampah organik dan anorganik. masing-masing jenis sampah dibedakan dan dimasukkan ke dalam trash bag (kantong pelastik) dan dikumpulkan jadi satu untuk diangkut ke dump truck lalu dikirim ke pengepul, atau dikirim langsung ke TPA Talangagung untuk sampah yang sudah tidak bisa didaur ulang kembali.

Ibu Nur Hayati, alias Ibu Aing bagi kelompok 12, angakat bicara soal kondisi sampah Gondanglegi yang sudah menggunung di TPS ini. Ia menyampakan, “Teman-teman, hari ini, KKN kelompok 12 dari Gondanglegi Wetan sedang melakukan kerja bakti di TPS 3R, tepatnya di daerah Pancir, kita akan beri edukasi temen-temen bahwa dengan kita membuang sampah campur antara oraganik dan anorganik dijadikan satu, inilah akibatnya,” tuturnya saat wawancara berlangsung.
Ia membeberkan, bahwa pembuangan sampah yang tidak terartur dan tidak terkelola dengan baik, maka akibatnya akan seperti ini, “ini salah satu contoh sampah rumah tangga, yang ibu-ibu dan saudara-saudara buang, ini kalo saya keluarkan ada tempe, tahu, ada uget-uget, ada cabai, ada ayam, nasi, pelastik, dan jeruk, jadi satu semuanya. Inilah yang terjadi jika semuanya dijadikan satu tanpa diperhatikan satu persatu. Semuanya menumpuk di shelter-shelter TPS 3R maupun di Talangagung,” imbuhnya.
“Jadi, kita himbau, mulai saat ini, ibu-ibu, bapak-bapak, warga-warga, adek-adek semuanya, supaya sadar sampah, cerdas dalam memilah sampah. Jadi, tidak untuk kebersihan kita saja, tetapi juga untuk membantu temen-temen kita yang mendedikasikan dirinya untuk untuk bekerja memilah sampah, tetap semangat!” pungkasnya. Kondisi sampah yang memperihatinkan ini menjadi PR besar bagi kita selaku warga Gondanglegi Wetan dan Gondanglegi Kulon. Ia juga menegaskan kembali kepada ketua KKN agar bertindak lebih cepat untuk mengatasi hal ini sebagai proker utama, dan pengabdian kepada masyarakat melalui edukasi tentang pentingnya pemilahan sampah mulai dari rumah.
Penulis: Fauzan Taqiuddin Abdul Fatah, Mahasiswa KKN-T Al-Qolam Kelompok 12