
Sabtu, 17 Mei 2025 Mahasiswa KKN Universitas Al-Qolam Malang melanjutkan pembahasan program kerja dalam Focus Group Discussion (FGD) ke-2 yang berlangsung pada Sabtu, 17 Mei 2025, pukul 19.00-21.00 WIB, bertempat di Mushola Yayasan Panti Asuhan Petermas, Gondanglegi, Malang.
Acara ini dihadiri oleh berbagai pihak, termasuk LP3M Al-Qolam, para stakeholder, dan mahasiswa KKN. Adapun stakeholder yang turut hadir antara lain Ketua Go-Care (Gondanglegi Peduli), Ketua Ranting NU, perwakilan pemerintah desa (Pemdes), sebagian Ketua RT wilayah Gondanglegi Wetan, serta beberapa elemen masyarakat.
Pembukaan Acara dibuka oleh MC, Sdri. Silva, yang kemudian dilanjutkan dengan pemaparan oleh Ketua Lembaga Penelitian, Pengembangan, dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP3M) Universitas Al-Qolam Malang, Bapak A. Atho’ Lukman Hakim, atau yang akrab disapa Gus Atho, sebagai moderator sekaligus perumus pada diskusi malam itu.
Dalam pembahasannya, Gus Atho menekankan pentingnya program kerja yang memiliki dampak nyata bagi masyarakat. Salah satu isu utama yang dibahas adalah pemberdayaan sampah sebagai sumber ekonomi bagi warga. Ketua Go-Care, Dian, menegaskan bahwa sampah memiliki nilai ekonomis dan dapat diberdayakan secara mandiri. Ia mengusulkan pembuatan shelter sampah mini yang bisa dimanfaatkan sebagai fasilitas umum di berbagai titik.”Sampah memiliki nilai pemberdayaan dan ekonomis. Kalau saya pribadi, idenya simpel saja: kita buat shelter sampah mini yang dapat digunakan sebagai fasilitas umum. Jadi nanti kita buat di beberapa titik yang mendukung pengelolaan sampah,” ujarnya.

Ia juga menjelaskan mekanisme pengelolaan sampah di beberapa RT yang sudah aktif menyetor sampah ke Tempat Pembuangan Sementara (TPS) secara berbayar, sebelum dikirim ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Talangagung.”Dengan adanya program ini, nantinya sampah akan dikelola sendiri dan dipilah secara mandiri oleh masyarakat. Sampah yang tidak bisa dikelola akan tetap diangkut ke TPA,” imbuhnya.
Debat Antara Proker Sampah dan Pembangunan Masjid. Diskusi semakin hangat ketika muncul perdebatan antara prioritas program pengelolaan sampah dan pembangunan masjid. Pengasuh Yayasan Panti Asuhan Pondok Petermas, Abah Zen, mempertanyakan urgensi antara kedua program tersebut.”Lebih penting mana antara program sampah dan masjid?” tanyanya.
Ia juga menegaskan bahwa pengelolaan sampah bisa menjadi bagian dari ibadah, karena memberikan manfaat bagi lingkungan dan masyarakat.”Kalau memang ingin bernilai ibadah, apakah mengurus sampah tidak bernilai ibadah? Jika pihak NU bersikukuh dengan program pembangunan masjid, coba berikan alternatif,” tegasnya.
Respon dan Keputusan Akhir Ketua Ranting NU, Bapak Arif Mulyadi, menanggapi bahwa rencana pembangunan masjid masih dalam tahap kajian lebih lanjut.”Sebenarnya masjid ini adalah program baru, mungkin kami akan mengkajinya kembali,” ujarnya.
Ketua Go-Care kembali menggarisbawahi bahwa fokus program kerja harus tetap pada pengelolaan sampah di beberapa RT yang telah ditentukan sebelumnya.“Kita fokuskan saja di beberapa RT yang sudah dibahas di awal. Ini lebih mudah dan bermanfaat sebagai wadah atau celter sampah sebagai fasilitas umum. Daripada diangkut langsung ke TPA pihak ketiga, lebih baik kita kelola dulu untuk memberdayakan masyarakat dan meningkatkan ekonomi melalui pengelolaan sampah,” jelasnya.

Diskusi yang lumayan banyak memakan waktu ini menghasilkan kesimpulan; kesepakatan untuk memprioritaskan program Kampung Cerdas Sampah sebagai solusi terhadap permasalahan lingkungan sekaligus memberikan nilai ekonomi bagi warga. Dengan adanya sistem pengelolaan sampah yang lebih terstruktur dan berkelanjutan, diharapkan masyarakat Gondanglegi Wetan semakin sadar akan pentingnya menjaga lingkungan.
FGD ini menjadi langkah konkret mahasiswa KKN dalam memastikan bahwa program kerja mereka memiliki dampak positif dan implementasi yang berkelanjutan bagi masyarakat.
Penulis: Fauzan Taqiuddin Abdul Fatah (Mahasiswa KKN-T Kelompok 12 Universitas Al-Qolam Malang)