
Workshop diadakan pada hari Sabtu, 28 Desember 2024, di Desa Kedungbanteng. Kegiatan ini diselenggarakan oleh mahasiswa KKN-PAR Universitas Alqolam kelompok 2 bersama Ranting NU Desa Kedungbanteng. Acara ini bertujuan untuk memberikan wawasan dan keterampilan dalam mengolah pisang menjadi produk bernilai ekonomi serta meningkatkan kemampuan pemasaran produk lokal. Pada pukul 08.30 peserta melakukan registrasi serta pengisian kuesioner.
Acara dimulai pukul 09.30 WIB dan dihadiri oleh Bapak Arif Iskandar Fathoni, S.E. (Kepala Desa Kedungbanteng), Bapak Yusuf (Ketua Ranting NU), Bapak Agus, Bapak Doni (Perwakilan Perangkat Desa), Ranting NU, Karang Taruna, Ibu PKK, serta peserta workshop.Acara dibuka dengan rasa syukur dan sambutan oleh Saudara Achmad Bady selaku ketua pelaksana. Dalam sambutannya, Achmad Bady mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah berpartisipasi dan menyampaikan permohonan maaf jika terdapat kekurangan dalam penyelenggaraan acara ini. Ia juga menjelaskan tujuan diadakannya workshop ini, yaitu untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang pengolahan pisang yang lebih produktif dan bernilai jual.

Selanjutnya, Bapak Yusuf dalam sambutannya menekankan pentingnya sinergi antara berbagai pihak, terutama dalam peran Ranting NU, untuk mendorong pengembangan ekonomi lokal melalui produk olahan pisang.
Bapak Arif Iskandar Fathoni, S.E., Kepala Desa Kedungbanteng, juga menyampaikan sambutan yang penuh harapan. Ia menyatakan bahwa meskipun pisang selama ini hanya dijual dalam kondisi mentah, sebenarnya pisang memiliki potensi untuk dijadikan produk olahan yang bernilai lebih tinggi. Ia juga menegaskan pentingnya pengelolaan yang baik untuk menciptakan program berkelanjutan yang mendukung ketahanan pangan dan perekonomian desa.
Dalam kesempatan ini, Bapak Arif mengajak peserta untuk membentuk kelompok home industri yang dapat dikelola bersama, dengan komitmen untuk menyediakan modal guna mendukung kelompok-kelompok tersebut. Ia berharap dengan adanya kolaborasi yang solid antara masyarakat dan pemerintah, perekonomian Desa Kedungbanteng dapat berkembang lebih pesat, mengingat banyaknya potensi sumber daya alam yang ada. Bapak Arif juga menambahkan bahwa BUMDES (Badan Usaha Milik Desa) siap membantu dalam pemasaran produk olahan pisang yang dihasilkan. Acara selanjutnya penutup/ do’a yang disampaikan oleh Bapak Yusuf.
Setelah penutup, acara dilanjutkan dengan Workshop yang dimoderatori oleh Saudari Nur Hayati. Materi disampaikan oleh dua pemateri yang sangat berkompeten.
Pemateri pertama, Bapak Fahrurozi, S.HI, M.Pd, memberikan materi dengan tema “Pisang sebagai Sumber Ekonomi Desa”. Dalam materinya, Bapak Fahrurozi menekankan bahwa meskipun pisang di Desa Kedungbanteng melimpah, jika hanya dijual dalam bentuk mentah, harganya akan jauh lebih rendah. Namun, jika diolah, harga pisang bisa jauh lebih tinggi, yang tentunya memberikan keuntungan yang lebih besar. Ia juga mengajak peserta untuk memandang pisang dengan filosofi yang dalam, yakni “pisang tidak akan mati selama belum berbuah”, yang menjadi simbol semangat untuk terus berusaha dan berinovasi.

Bapak Fahrurozi juga memberikan motivasi untuk menumbuhkan semangat berwirausaha dengan keyakinan bahwa kita semua bisa sukses, dan bahwa peluang usaha ada di depan mata, terutama setelah Lebaran Idul Fitri. Beliau juga mengajak masyarakat untuk tidak hanya mengandalkan pekerjaan di luar negeri, tetapi untuk berfokus pada potensi produk lokal, seperti pisang, yang bisa diekspor. Menurutnya, usaha harus dilakukan dengan istiqomah dan sabar, serta pentingnya kolaborasi antara desa dan NU untuk memajukan perekonomian lokal. Di akhir pemaparannya, beliau mengumumkan bahwa akan dibentuk beberapa kelompok usaha yang terdiri dari perwakilan dari empat dusun di Desa Kedungbanteng.
Pemateri kedua, Bapak M. Sholikhan, Owner Perusahaan Putri Berlian Tumpang, yang merupakan pengusaha sukses dalam produk olahan pisang, memberikan wawasan yang lebih mendalam tentang bagaimana mengelola usaha dengan baik. Dalam materinya, Bapak M. Sholikhan menjelaskan pentingnya mengikuti tren pasar dalam membuat varian produk olahan pisang. Ia juga berbagi pengalamannya dalam memasarkan produk hingga ke Bandung, serta pentingnya memiliki legalitas usaha agar produk bisa dititipkan di supermarket, seperti Indomaret, dan memiliki merek serta kemasan yang menarik.
Selain itu, beliau juga menekankan pentingnya proses pengolahan yang ramah lingkungan dengan menggunakan teknik manual untuk mengurangi penggunaan listrik dan menghindari kecelakaan pada tangan. Bapak Sholikhan juga melanjutkan dengan pelatihan praktik pengolahan pisang, yang dimulai dengan teknik pengupasan pisang, kemudian dilanjutkan dengan teknik penggorengan setelah pisang dipasrahkan. Kepala Desa Kedungbanteng juga turut serta dalam praktik ini sebagai bentuk dukungan dan partisipasinya. Setelah itu, peserta diajarkan cara memberikan varian rasa pada pisang yang sudah digoreng, untuk menghasilkan produk olahan yang lebih menarik dan lezat.
Terlihat sekali bahwa peserta workshop sangat antusias dan aktif mengikuti seluruh rangkaian acara hingga selesai. Mereka sangat antusias dalam sesi praktik, yang menunjukkan minat dan komitmen mereka untuk mengembangkan usaha olahan pisang di desa.
Oleh: Siti Aisyah